Museum Multatuli, Museum Antikolonialisme ditengah kota Rangkasbitung, Lebak, Banten.
Minggu kedua, awal tahun 2024. Perjalanan menuju kota Rangkasbitung bersama Bobi dengan hujan yang cukup setia menemani kami membuat perjalanan ini semakin menarik. Puluhan kilometer kami lalui, mulai dari kondisi jalan yang masih bermukakan tanah, pemandangan tepian sawah, rumah-rumah penduduk lokal, hingga jalan raya yang dipenuhi truk-truk pengangkut material.
Dari jauh terlihat Gerbang beratap merah bertuliskan Selamat Datang di Rangkasbitung, artinya tujuan perjalanan kami, Museum Multatuli sudah dekat. Rintik-rintik hujan masih bertahan di kota ini, tetapi tidak menyurutkan aktivitas warga setempat. Pengendara beroda dua mapun roda empat masih terlihat berlalu lalang. Tidak butuh waktu lama untuk kami sampai di depan Museum Multatuli.
![]() |
Januari 2024. Perjalanan menuju Museum Multatuli bersama Bobi |
Masuk kedalam kawasan Museum
Multatuli, suara teriakan semangat anak-anak sekolah menyambut para pengunjung
museum. Tidak hanya satu-dua remaja, tetapi beberapa kelompok anak sekolah
sibuk beraktifitas di dalam kawasan museum ini. Mulai dari berlatih upacara
sekolah hingga menari di pendopo. Kawasan dengan luas 1.934 m2 ini memang
terdiri dari tiga unit bangunan, yaitu pendopo, bangunan utama sebagai museum,
dan bangunan pendukung. Kawasan Museum Multatuli merupakan Kantor Kewedanaan
Rangkasbitung pada tahun 1930 dan telah mengalami pergantian fungsi sebelum
akhirnya diresmikan menjadi Museum Multatuli pada 11 Februari 2018.
Apa itu Kawedanan. Kawedanan
atau "ke-wedana-an" merupakan wilayah administrasi kepemerintahan
yang berada di bawah kabupaten dan di atas kecamatan yang berlaku pada masa
Hindia Belanda dan beberapa tahun setelah kemerdekaan Indonesia, dipakai di beberapa provinsi, termasuk Jawa
Barat.
![]() |
Kawedanan. Papan Informasi Museum Multatuli. |
![]() |
Tugas Manusia Adalah Menjadi Manusia |
Kemudian dari kalimat sederhana diselembar tiket tersebut, muncul sebuah pertanyaan awal:
“Apa yang membuat manusia menjadi manusia?”
Melirik pandangan Plato
terhadap Human nature atau sifat manusia dimana terdiri oleh tiga unsur:
appetite (well-being) atau nafsu, spirit (speech), dan intellect
(immortal soul). Ketiga unsur atau cara hidup ini kemudian menciptakan
kelas masyarakat (The Rulers, Auxiliaries, dan Working class) dan
setiap kelas membentuk siapa diri kita. Secara singkat, ketiga cara hidup
tersebut memainkan peran yang sangat besar dalam sifat manusia karena membentuk
siapa kita sebagai manusia.
Pandangan Plato ini menarik
saya untuk mencoba memahami bagaimana peran Multatuli atau nama asli beliau
Douwes Dekker yang pada era pergerakan nasional, sebagai seorang keturunan Indo, menjadikan
identitas yang dimilikinya justru untuk memberikan perlawanan terhadap
kolonialisme Hindia Belanda. Multatuli kali pertama tiba di Rangkasbitung pada
21 Januari 1856 sebagai asisten Residen Lebak. Kota Rangkasbitung menjadi
tempat Douwes Dekker menyalurkan pemahamannya dalam buku Max Havelaar
menggunakan nama pena Multatuli, yang berasal dari bahasa Latin "sudah banyak
yang aku derita". Max Havelaar sendiri merupakan pengalaman Douwes Dekker melihat
adanya ketidakadilan dan pemerasan kepada masyarakat bumiputra oleh sistem
kolonialisme. Sehingga tepat, Museum Multatuli menjadi museum antikolonialisme yang menampilkan sejarah bagaimana kolonialisme
bekerja dan bagaimana pula sistem itu diruntuhkan oleh gerakan nasionalisme.
Menelusuri area didalam museum, kita tidak hanya menemukan topik antikolonialisme dan sosok Multatuli melainkan juga kronologi sejarah Lebak, dimana terdapat salinan surat pembentukan tiga kabupaten awal di Banten, yakni Serang, Caringin, dan Lebak. Di akhir, kita akan disuguhkan patung instalasi Multatuli yang tengah membaca, karya Dolorosa Sinaga yang merupakan seorang pematung, feminis dan aktivis hak asasi manusia Indonesia. Sebelumnya beliau menjabat sebagai Dekan Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta dan pendiri Sanggar Seni Somalaing yang dioperasikannya di Jakarta sejak tahun 1987.
Multatuli dengan kepeduliannya terhadap kemanusian, telah menjadi bagian dari sejarah Lebak. Namanya di abadikan menjadi Jalan Multatuli sejak tahun 1970-an, SD Multatuli, Radio Multatuli FM dan saat ini, Museum Multatuli. Meskipun memiliki identitas seorang keturunan Indo, Multatuli telah memilih untuk memberikan perlawanan terhadap kolonialisme Hindia Belanda. Masih terkait dengan apa yang membuat kita menjadi seorang manusia, mengutip salah satu kutipan oleh Henri Nouwen seorang pendeta, profesor, penulis, dan teolog Katolik Belanda:
“What makes us human is not our mind but our heart, not our ability to think but our ability to love.”
_______________
Sumber:
https://blogs.cofc.edu/utopia/2013/02/13/more-and-platos-understanding-of-humanityhttps://museummultatuli.id
Artikel Jurnal: Meningkatkan Pemahaman Generasi Muda Terhadap Peran E.F.E. Douwes Dekker Pada Era Pergerakan Nasional Melalui Focus Group Discussion (Fgd) Guru Bangsa oleh Mifdal Zusron Alfaqi, dkk.
https://kawedanan.magetan.go.id/
https://nationalgeographic.grid.id/read/133583962/menelisik-jejak-eduard-douwes-dekker-di-museum-multatuli-rangkasbitung
https://museum.kemdikbud.go.id/museum/profile/museum+multatuli
Quotenya beneran dalem banget. Kelihatannya sederhana tapi maknanya luar biasa. Thanks ya udah pergi ke sana dan membahas ini.
ReplyDeleteHaiiii .. terima kasih :) ... Suatu waktu mampir ke Rangkasbitung bolehlah mampir ke museum Multatuli, GBU
Delete